The Story of Air – Chapter 1

Ini kisah Air, putri kami yang pertama.

‘Ummi, boyongan ke Serpong nya, setelah Air umur 40 hari aja ya’. Begitu bunyi sms dari suami waktu itu.

‘lho, kenapa?’

‘Aku gak betah sendirian, gak ada yg masakin, gak ada yg ngurus..’

Hihihi.. Ternyata abi kesepian sendirian di rumah.. Yah, paling tidak itu cukup menggambarkan bahwa keberadaan saya, cukup memberi warna di kehidupannya, cia cia ciaaaa..

Oke, saya sih setuju2 saja dengan permintaan suami, yang sebenarnya meleset jauh dari rencana kami sebelumnya. Rencana kami, Air dan saya baru akan diboyong dari Madiun –karena Air dilahirkan di Madiun- sekitar setelah dua bulan atau bahkan setelah lebaran. Air lahir bulan mei, lebaran sekitar bulan agustus-september.

Akhirnya, rencana kami tersebut, kami utarakan kepada orangtua.. Ya, tentu saja DITOLAK! Hehe, siapa pula yang tega bayi masih merah, baru 40 hari, sudah langsung mau diboyong ke Serpong. Trus, nanti memang kami sudah siap ngurus bayi kami sendiri?

Weleh2, penolakan itu sih kami maklum, namanya juga orang tua. Tapi kami tetap kekeuh, sehingga akhirnya, diijinkan, hehe.. Didampingi sama orang tua suami, kami sama-sama boyong ke Serpong. Naik kereta langganan kami, Bangunkarta-halah.

Sampai di Serpong, alhamdulillah no-problemo. Selama di perjalanan pun, juga tidak ada halangan berarti, biidznillah.. Tiap bangun, dimimik-i – ini enaknya ASI, ndak perlu dot/steril2an, langsung mancep cep.. Baby Air sehat wal afiat. ‘Etes’ kalo kata wong Jowo, hehe. Sorenya, malah langsung diajak ke Tangerang kota, ke rumah salah satu kerabat suami.

Waktu itu, umur 40 hari, si Air dibelikan abinya kolam renang bunder sama neckring nya sekalian.. Karena belinya online, sampainya persis pas Air umur 41 hari. Di hari ke 41 inilah, si Air langsung di-godok-kan banyu (air) oleh Mbah Kung, demi menghangatkan air di kolam yg baru dibeli tadi.. Ukuran bak nya yg guuuedhe, gak sumbut sama ukuran panci kami yang mini2, hehehe.. Jadilah Mbah Kung dengan semangat dan kemauan keras, entah berapa kali berjuang merebus air demi Air (ada yg aneh sama akhir kalimat ini). Hosh hosh..

Akhirnyaa, (yang katanya) baby spa jadi juga, hehe.. Air yang baru umur 41 hari, dipasangi neckring dan dicemplungkan plung ke dalam kolam. Kecipak kecipuk, Mbah Uti masih belum tega ngelepas si Air, dipegangilah bottom nya..  Memang dasar namanya Air, sukanya main air.. Kalo kata salah satu penjual di ITC (orang tionghoa nie), si Air lahirnya di tahun Naga Air, jadinya suka sama olahraga Air.. heheh.. Habis renang sore2, waaa, nyenyaaaak banget tidurnya..

Hari perpisahan pun tiba. Setelah menemani kami di Serpong sekitar 3 hari, Mbah Kung-Uti pulang kembali ke Madiun, karena tugas2 negara masih menanti –ceile-loh, iyalah, kan PNS, hehe. Disitulah tantangan dimulai. Yang biasanya ada yang bantuin ngemong, sekarang musti berdua saja dengan suami-dan otomatis sendirian pas ditinggal kerja. Yang biasanya ada yang masakin, harus masak sendiri (kembali, hiks). Yang biasanya nyantai di rumah madiun, pagi2 sekarang musti gubrak gubruk nyiap2kan kebutuhan suami + beres2 rumah + ngurus Air.. Hwaaa.. And so on. Yaahh, itu semua bakal beraaat banget, kalau dilakukan sendiri. Namun, kalau dikerjakan berdua, sama suami, alhamdulillah kita bisa! Tetangga-tetangga juga banyak kok yang baik hati, bersedia me-ngemong (bahasa opo ikii), jikalau ummi nya lagi sendirian dan harus ada yang dikerjakan.. Alhamdulillah..

2 thoughts on “The Story of Air – Chapter 1

  1. hanis mengatakan:

    halo Avatar Air, pengendali air…hehehe😀

  2. mobil datsun bandung mengatakan:

    di tunggu cerita berikutnya sist😉
    terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s